Setiap orang tentu memiliki cara bagaimana untuk bersyukur.
Tapi..
Kita rasanya perlu sama-sama mengerti dan paham apa sih bersyukur itu?
Apakah hanya sekedar mengucap "Alhamdulillah"?
Misal :
"Alhamdulillah, hari ini dagangan lancar."
"Alhamdulillah, hari ini saya sehat."
"Alhamdulillah ae wes meski cuma segini"
Apakah dengan melihat kehidupan orang yang keadaannya di bawah kita?
Atau ada sesuatu yang lain?
Apapun pemahaman tentang bersyukur yang sama sama kita yakini, tidak sepenuhnya benar dan juga tidak sepenuhnya salah.
Kali ini saya ingin berbagi mengenai cara pandang saya tentang Bersyukur.. Siapa tahu, kita bisa sepaham atau bahkan memperbaiki cara pandang saya ke arah yang lebih baik..
Semasa SD
Saat masih duduk di bangku SD rasanya merasa berada dalam neraka.
Kala itu saya sekolah di Sekolah Dasar Islam yang mana kita sama sama tahu, mata pelajaran yang akan ditempuh sangat banyak.
Tidak hanya tentang ilmu pengetahuan dasar saja, ilmu keagamaan juga sangat mendetail dan beragam.
Kala itu saya sekolah di Sekolah Dasar Islam yang mana kita sama sama tahu, mata pelajaran yang akan ditempuh sangat banyak.
Tidak hanya tentang ilmu pengetahuan dasar saja, ilmu keagamaan juga sangat mendetail dan beragam.
Berangkat sekolah harus lebih "pagi" dari SD pada umumnya, karena kita harus membaca Juz Amma dari awal s.d akhir lalu disusul sholat Duha.
Saat pelajaran berlangsung, tidak hanya dituntut berfikir. Hafalan juga menjadi makanan sehari-hari. Kita tak hanya belajar saja, tapi akhlaq juga belajar dari 0.
dan ditengah jalan aku jengah..
Aku menangis sejadinya kepada ibuku untuk "pindah" dari SD tersebut,
karena merasa tidak mampu dan sangat melelahkan.
Apa jadinya?
Ibuku malah memarahiku.
Aku pun pernah jatuh sakit hampir sebulan lebih karena merasa tertekan. Saat itu wali kelasku hingga menjenguk.
Tubuhku mulai menghangat, entah kenapa perkataan wali murid SD ku kala itu membuatku bersemangat kembali untuk sekolah.
Selama enam tahun..
aku menjalani sekolah yang awalnya sangat ku benci..
Aku ingat betul pelajaran berharga yang masih dijalani hingga kini.
Aku ingat betul pelajaran berharga yang masih dijalani hingga kini.
Ya. Ketika salah satu Guruku mengajarkan bersyukur..
Beliau mengajarkan bersyukur dengan begini..
Beliau mengajarkan bersyukur dengan begini..
Setiap kamu melihat, mendengar, dan membaca. Ambillah salah satu saja sesuatu untuk membuatmu belajar bersyukur. Lalu jika kamu merasa iba, doakanlah. Jika kamu merasa dibawahnya maka berdoalah agar kamu bisa seperti dia.
Ya, kita tak hanya belajar teori, praktik juga harus dijalankan.
Lalu saya mulai belajar praktik.
hingga kini..
Saya terus berusaha mempraktikannya..
dan pagi tadi saya melihat Bapak Tua yang duduk di lampu merah, beliau tidak mengemis, pun tidak juga bekerja.
dan pagi tadi saya melihat Bapak Tua yang duduk di lampu merah, beliau tidak mengemis, pun tidak juga bekerja.
Kebetulan sahabat saya tahu bahwa Bapak Tua tersebut tinggal di dekat area rumahnya, dan memang menjadi aktivitas sehari-hari Beliau naik sepeda untuk kemudian duduk di emperan lampu merah. Entah Beliau hidup sebatang kara atau bagaimana kita pun sama sama tidak tahu.
Lalu, karena aku melihat..
Aku berdoa seperti apa yang diajarkan Guruku. Setalah itu aku merenung.
Aku berdoa seperti apa yang diajarkan Guruku. Setalah itu aku merenung.
Begini renunganku
Kok bisa ya? meski bapak tua itu kelihatannya hanya duduk saja. tapi tetap sehat, rajin pulang pergi bersepeda. Otomatis butuh tenaga untuk mengayuh, dan tentunya beliau dicukupkan oleh Allah untuk makan. Pakaian pasti dicuci, otomatis butuh uang untuk beli rinso. Punya rumah, otomatis beliau harus keluar uang untuk sehari-harinya.
CARA BERSYUKUR :
- Kita anggap saja Bapak Tua itu hanya duduk diam saja di lampu merah. Berarti kita bisa simpulkan bahwa Allah akan selalu mencukupkan kebutuhan kita. Tanpa kita minta bahkan memaksapun, Allah selalu cukupkan. Saat kita mengeluh tidak punya uang, dan serba pas-pasan kita bisa memetik hikmah dari apa yang kita lihat, bahwa Allah akan menjamin dan mencukupkan. Tidak semestinya kita selalu mengeluh kenapa cuma dapat segini, kenapa hidup kita begini, karena kita hidup di dunia ini sudah dijamin oleh Allah.
Entah kita shalat atau tidak.
Entah kita berdoa atau tidak.
Allah selalu cukupkan. karena ibadah yang kita lakukan tidak akan pernah mempengaruhi Allah justru akan mempengaruhi diri kita sendiri.Sebab kita yang butuh, bukan Allah. CATAT!
- Kita anggap saja Bapak Tua tersebut mencari pekerjaan di lampu merah, beliau berusaha mengayuh sepedanya pulang pergi. Berarti kita bisa simpulkan bahwa Allah akan lebih jamin kehidupan kita sesuai dengan seberapa besar niat kita berusaha. Kita berusaha lebih akan dibayar lebih. Jadi ketika kita dalam fase kegagalan. Coba kita ingat bersama, apa usaha kita sudah sangat maksimal? Jangan sekali sekali kita sudah mengeluh dengan update status kemana kemana seperti Ya Allah kenapa ujian ku sebesar ini, kenapa gagal, aku sudah ini itu, kenapa dia yang berhasil. Kenapa aku egak?
Sekali lagi sebelum kita mengeluh, coba ingat baik-baik.
Sejauh manakah usaha kita?
Evaluasi Diri, Evaluasi Diri, Evaluasi Diri.إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS Ar-Ra’d:11) - Kita anggap saja bahwa Bapak Tua tersebut memiliki kondisi pikun yang sangat berat. Berarti kita bisa simpulkan bahwa Allah tetap menjamin bahkan untuk hambanya yang sedang sakit sekalipun. Jadi ketika kita merasa khawatir ketika masa sakit, bagaimana ekonomi kita kedepannya. Yakinlah bahwa dalam kondisi sakit Allah tetap menjamin kita dalam keadaan apapun.
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا“…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (Surah Hud:6)
Dan hingga detik ini jika mengingat apa yang aku benci dulu membuatku terus bersyukur..
Apa yang aku anggap Neraka adalah suatu kesalahan besar.
Apa yang aku anggap Neraka adalah suatu kesalahan besar.
Apa yang kita benci belum tentu buruk, dan apa yang kita sukai belum juga itu baik
Jadi coba kita ingat bersama,
Apakah dulu..
Apakah dulu..
Adakah sesuatu hal yang membuatmu merasa berada di Neraka?
Adakah sesuatu hal yang membuatmu sangat membenci suatu hal?
tapi..
Adakah sesuatu hal yang membuatmu sangat membenci suatu hal?
tapi..
Entah baru sadar atau tidak,
Ternyata itu suatu yang baik untukmu.
Ternyata itu untuk kebaikanmu.
Mari kita ingat ingat bersama,
Sebelum mengeluh menjadi kebiasaan kita..
Sebelum iri dan dengki menjadi senyawa pada kepribadian kita..
Sebelum kita terlalu dalam membenci Allah..
Sebelum iri dan dengki menjadi senyawa pada kepribadian kita..
Sebelum kita terlalu dalam membenci Allah..
dan..
Sebelum ajal menjemput kita..
Mari kita sama sama belajar bersyukur tidak hanya dalam ucapan Hamdallah saja..
Setiap kamu melihat, mendengar, dan membaca. Ambillah salah satu saja sesuatu untuk membuatmu belajar bersyukur. Lalu jika kamu merasa iba, doakanlah. Jika kamu merasa dibawahnya maka berdoalah agar kamu bisa seperti dia.
Cukup sekali dalam waktu 24 jam..
Kamu akan menyadari seutuhnya bagaimana Allah ternyata sangat mencintai dan menyayangi kita.
Maha Benar Allah.
Maha Benar Allah.
Maha kadang kadang kita.
Semoga bermanfaat, dan senantiasa membuat kita bersyukur.

Komentar